Bagaimana eksploitasi kemiskinan di televisi bekerja?

Uang Kaget dan Bedah Rumah GTV merupakan beberapa contoh program televisi dengan menampilkan kaum marjinal sebagai bahan tayang. Kenapa program semacam ini muncul dan tetap ada? Permintaan pasar.

Sumber

Data yang dikeluarkan Nielson Media Riserch menunjukkan bahwa program dengan menampilkan emosi penonton akan lebih banyak ditonton masyarakat Indonesia.

Bagi media televisi, tujuan dari semua ini tentu rating dan sharing. Rating dan sharing adalah indikasi kalau sebuah program itu banyak yang nonton atau tidak. Ingat, banyak yang nonton atau tidak, bukan indikasi bagus atau tidaknya sebuah program. Asal jelek, kalau datanya bagus, ya lanjut.

Rating dan sharing ini nantinya jadi patokan stasiun televisi dan pengiklan menentukan harga dari sebuah program. Naif? Memang. Selama permintaan pasar masih ada, kita bisa apa? Hendak beralih ke youtube yang katanya lebih dari teve, isinya juga tidak jauh beda. Toh, yang bilang youtube lebih bagus dari teve, kan orang youtube. Coba saja tanya orang teve, pasti teve lebih baik dari youtube, begitu seterusnya sampai Upin Ipin pidah kewarganeraan.

Mau sampai kapan sentimen kemiskinan dimainkan?

Komentar