Kadang, manusia lebih mementingkan egonya untuk dapat sedikit menghibur diri. Sebagian dari orang tua kita pernah mengajak anaknya untuk menonton pertunjukan lumba-lumba. Kita tidak pernah berfikir bagaimana makhluk cerdas itu bisa melakukannya. Kita hanya bisa menikmati pertunjukannya. Tanpa pernah berfikir apa yang terjadi di belakangnya.
Lumba-lumba dilatih sedemikian rupa dengan amat menyedihkan, penuh penderitaan hanya untuk menghibur manusia. Mengorbankan kehidupan mereka. Mereka seharusnya bisa menempuh ratusan kilo di lautan lepas setiap harinya. Namun, kolam renang terpaksa menjadi alamnya.
Saat beranjak dewasa, kita mulai tahu bahwa apa yang terjadi pada lumba-lumba itu tidaklah dibenarkan, dan melanggar hak hidup makhluk lain. Paling menyedihkannya lagi, kita tahu apa yang sedang terjadi di depan mata namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Sama halnya dengan rindu. Kita tahu, obat rindu paling ampuh ialah bertemu. Kita tahu dan sadar dengan betul persoalannya dan pemecahan masalahnya, hanya saja kita terlalu takut untuk bertindak. Kita nggak bisa berbuat apa-apa. Itu sunguh menyedihkan. Dari sini saya tersadar. Ternyata bukan kamu yang membuatku rindu, tapi kita.
Lumba-lumba dilatih sedemikian rupa dengan amat menyedihkan, penuh penderitaan hanya untuk menghibur manusia. Mengorbankan kehidupan mereka. Mereka seharusnya bisa menempuh ratusan kilo di lautan lepas setiap harinya. Namun, kolam renang terpaksa menjadi alamnya.
Saat beranjak dewasa, kita mulai tahu bahwa apa yang terjadi pada lumba-lumba itu tidaklah dibenarkan, dan melanggar hak hidup makhluk lain. Paling menyedihkannya lagi, kita tahu apa yang sedang terjadi di depan mata namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Sama halnya dengan rindu. Kita tahu, obat rindu paling ampuh ialah bertemu. Kita tahu dan sadar dengan betul persoalannya dan pemecahan masalahnya, hanya saja kita terlalu takut untuk bertindak. Kita nggak bisa berbuat apa-apa. Itu sunguh menyedihkan. Dari sini saya tersadar. Ternyata bukan kamu yang membuatku rindu, tapi kita.
Komentar