Kesempatan Kedua

Teruntuk siapapun di luar sana yang merasa pernah tersakiti perasaan sayangnya oleh saya. (Sengaja nulisnya gini, biar disangka ada beberapa wanita yang disakiti, padahal hanya satu. Iya, kamu) (sengaja dikasih penjelasan biar yang kepedean bingung, apa benar ini buat dia) (dan kini semakin bingung). Bukan maksud pergi dan tidak bersikap layaknya pria sejati. Saya pergi dengan sebab yang tak bisa saya sampaikan, sangat pribadi, melebihi rahasia negara.

Begini,
Pikiran merupakan salah satu investasi yang mahal. Kenangan bersamamu tentu tidak bisa begitu saja hilang. Apalagi dipaksakan untuk pergi. Menjalani sedikit kehidupan bersama orang yang spesial menjadikan hidup semakin berwarna. Walau hanya makan di pinggir jalan, terasa candlelit dinner. Ah masa? Emang dasar elu kere aja.

Setelah hubungan ini berakhir, awalnya memang biasa. Semakin kesini kian terasa kalau hidup tanpamu itu berat. Biar, Dilan sajalah yang manggul berat. Semua kangen ini terasa sia-sia kalau hanya diri nian yang merasa. Apakah yang di sana tidak merasakan hal yang serupa? Ingin sekali rasanya bertemu. Mengulang memori yang pernah kita jalani bersama. Ingin sekali menggandeng tangan yang dulu. Apakah masih sama.

Kalau dihadapkan pada pilihan yang sama, saat masih bersamamu, apakah masih ada niat untuk pergi? Tentu saja tidak. Benar kata orang-orang, 'kamu terlihat lebih manis saat sudah tidak di sampingku.’

Sayangnya, pilihan itu tidak mungkin kembali. Hanya sesal yang terasa. Jujur saya katakan, tak ingin berpisah.

Terserah kamu, mau mencaci seperti apa. Terserah kamu saja saat ini. Aku terima saja, tidak akan kutolak. Aku memang pernah salah.

Tolong berikan aku satu kesempatan. Sekali saja dan tak akan aku ulangi kesalahan itu. Aku masih menunggumu di sini. Tempat di mana kita pernah berada. Kamu tahukan, di mana itu. Soalnya aku sedikit lupa. Maaf.
Maafkanlah aku ingin kembali, andai ada jalan.

Jika dia memang untukku, kuharap kembalikan dia padaku.

Terinspirasi oleh Melly Goeslaw

Komentar